Breaking News
Loading...

Recent Post

Minggu, 23 Desember 2007
Suka Duka Mengajar di Daerah Terpencil

Suka Duka Mengajar di Daerah Terpencil

Saya bertugas mengajar di daerah rawa yang termasuk kategori sangat terpencil di kabupaten Hulu Sungai Selatan. Nama tempat ini adalah Bajayau. Di Bajayau semua tempat terdiri dari lahan rawa yang sangat luas membentang dari Amuntai, Kandangan, Rantau, Martapura hingga Marabahan dan Muara Teweh. Siswa di tempat saya ini, kalau pergi ke sekolah semuanya harus naik kelotok yang merupakan kendaraan air satu-satunya yang dapat mengantarkan mereka ke sekolah. Segi positifnya mereka naik kelotok ini, tidak ada istilah siswa pulang lebih dulu, karena kalau pulang harus sama-sama di kelotok ini. Segi negatifnya, kalau pas kelotoknya mengalami kerusakan, ya....semua siswa di kelotok tersebut tidak dapat hadir ke sekolah.

Perjalanan ke tempat tugas saya, dimulai dari ibukota kabupaten, yakni kota Kandangan. Dari Kandangan biasanya saya naik sepeda motor sejauh 35 Km ke Nagara, ibukota kecamatan yang masih dapat dijangkau angkutan darat. Untuk sampai di Bajayau, saya harus naik kelotok lagi selama 1,5 jam menyusuri sungai Nagara ke arah Hilir. Nagara merupakan kota industri yang lumayan maju. Penduduknya sebagian besar hidup dari usaha kerajinan logam dan berdagang. Jangan heran jika anda pergi ke Nagara, anda akan mendengarkan denting suara logam yang ditempa di setiap sudut kota. Bahkan ada humor segar: "Andaikata ada pesawat terbang yang jatuh di Nagara, maka KNKT tidak akan dapat menemukan bangkai pesawat tersebut..? Karena telah habis diambil dan diolah oleh pengrajin logam menjadi berbagai peralatan seperti wajan, panci, dan lain-lain.".

Perjalanan dari Nagara sampai ke Bajayau menyusuri sungai ke arah hilir naik kelotok 1,5 jam mempunyai arti tersendiri. Di kelotok ini berkumpul semua PNS yang senasib seperjuangan di 'garis depan'. Guru, bidan, dokter, perawat, dan lain-lain memenuhi kelotok yang kecil. Akibatnya setelah ruang bawah penuh, ya...terpaksa deh kami duduk di atas atap kelotok sambil bercerita mengenai perjuangan di 'garis depan'. Oleh sebab itu, para PNS di sini menjadi akrab, saling mengenal, karena selalu bertemu jika akan berangkat ke tempat tugas. Mungkin rasa senasib sepenanggungan 'di garis depan' ini lah yang membedakan dengan PNS di kota yang kadang saling acuh tak acuh karena jarang bertemu.

Sepanjang perjalanan, kami seolah melihat gambaran kehidupan masyakat yang lengkap. Dari kota terlihat masyarakat yang maju, canggih, individualistik. Terus ke 'garis depan' kami mendapati masyarakat yang masih terbelakang, sederhana tapi penuh kekeluargaan. Rumah mereka terletak di tepi sungai, tanpa listrik, tanpa air ledeng, tanpa TV. Kemana-mana naik kelotok. Sungguh kehidupan yang masih belum terjangkau gegap gempita pembangunan. Tapi mereka tidak mengeluh, terus berusaha sendiri, tidak demo, tidak mengajukan 'class action' kepada pemerintah, kenapa daerahnya belum terjangkau pembangunan.

Setelah sampai di tempat tugas, SMP Negeri 2 Daha Selatan hilanglah segala penat dan letih di perjalanan. Tempat ini seolah menjadi tempat yang mengasyikkan. Sekeliling bangunannya di atas air rawa yang dipenuhi berbagai macam ikan. Di sini tidak ada polusi dan udaranya masih segar. Lingkungannya tenang tanpa suara bising kendaraan bermotor seperti di kota besar. Siswa-siswanya sangat penurut pada guru. Yaah..mungkin karena belum banyak terpengaruh 'tayangan buruk' di televisi sehingga mereka sangat menghormati guru.

Jangan anda berfikir, bagaimana kami melakukan upacara bendera, apa berdiri di atas air? Tidak, kami memiliki lapangan luas yang dibangun di atas air tepat di tengah-tengah bangunan sekolah. Lihat saja siswa-siswi kami, keren kan? tidak kalah penampilannya dengan di kota. Oh, ya sepatu yang mereka pakai seragam, merupakan bantuan dari Bank BPD Kalsel cabang Kandangan yang sangat penduli dengan pendidikan. Kalau topi yang mereka pakai merupakan bantuan dari Dinas Pendidikan Kabupaten HSS. Kemudian lambang dan emblem merupakan swadaya sekolah yang dibeli dari dana BOS. Sekedar di ketahui, siswa-siswi kami kebanyakan dari masyarakat miskin. Jangankan untuk membeli sepatu, untuk makan saja mereka masih kesulitan. Jadi Bapak kepala sekolah harus memutar otak bagaimana supaya seragam sekolah lengkap seperti di kota.

Tapi Bapak dan Ibu Guru di SMPN 2 Daha Selatan sudah canggih lho. Lihat saja, di samping ini Bapak Wakasek yang lagi mengajar. Ada 2 laptop di depan beliau sehingga kalau menjelaskan materi pelajaran bisa ditayangkan di dinding memakai LCD proyektor. Itulah komitmen kami agar tidak ketinggalan dengan di bidang IT. Laptop sekolah dan proyektor kami beli setelah dapat bantuan dana Schollgrant. Kalau yang satunya lagi, laptop pribadi yang dibeli dengan uang kantong sendiri. Yaaah..terkadang kami harus kredit di Bank, tapi nggak apa-apa demi kemajuan diri dan kemajuan anak didik. No problem lah. Tapi idealnya pemerintah harus turut memikirkan bagaimana agar guru di daerah terpencil maju. Misalnya bagi-bagi laptop gratis. Kan enak...!

Saya tinggal dan menginap di Bajayau. Pemerintah berbaik hati membuatkan rumah dinas yang lumayan 'mungil'. Rumah ini juga di atas rawa, jadi kalau siang panas sekali dan kalau malam dingin sekali akibat adanya air di bawah rumah. Gangguan lain adalah nyamuk yang menjadi salah satu 'ikon' daerah terpencil. Kalau malam terkadang terdengar suara gemuruh 'konvoi' nyamuk yang lagi lewat di atas rumah. Saking banyaknya nyamuk ini, saya pernah memakannya. Lho? bukan sengaja sih, tapi pas waktu makan malam mulut terbuka, ada nyamuk masuk. Yaa... sekalian aja tertelan sama makanan. he.he.he.

Akhirnya, kalau dipikir-pikir, susah juga mengajar di 'garis depan'. Banyak memerlukan pengorbanan waktu, tenaga dan biaya. Jauh dari keramaian dunia, jauh dari gegap gempita kemajuan teknologi, terkadang kurang diperhatikan. Tapi kalau melihat anak didik yang masih polos, melihat semangat mereka belajar, melihat tatapan penuh harap dari bocah daerah terpencil, rasanya hati ini ingin selalu datang dan bertugas di sini. Terkadang memang ada tawaran untuk pindah ke kota, tapi saya tolak karena terlanjur 'jatuh cinta' mengajar di daerah terpencil.

Minggu, 09 Desember 2007
no image

Ujian Nasional (UN) Sebagai Isu Kritis Pendidikan

Pendidikan merupakan salah satu sektor penting dalam pembangunan di setiap negara. Menurut Undang-Undang No. 20 Tahun 2004 pendidikan merupakan usaha sadar dan terencana untuk mengembangkan segala potensi yang dimiliki peserta didik melalui proses pembelajaran. Pendidikan bertujuan untuk mengembangkan potensi anak agar memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, berkepribadian, memiliki kecerdasan, berakhlak mulia, serta memiliki keterampilan yang diperlukan sebagai anggota masyarakat dan warga negara. Untuk mencapai tujuan pendidikan yang mulia ini disusunlah kurikulum yang merupakan seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan dan metode pembelajaran. Kurikulum digunakan sebagai pedoman dalam penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan yang telah ditentukan. Untuk melihat tingkat pencapaian tujuan pendidikan, diperlukan suatu bentuk evaluasi.



1. Pendahuluan

Evaluasi pendidikan merupakan salah satu komponen utama yang tidak dapat dipisahkan dari rencana pendidikan. Namun perlu dicatat bahwa tidak semua bentuk evaluasi dapat dipakai untuk mengukur pencapaian tujuan pendidikan yang telah ditentukan. Informasi tentang tingkat keberhasilan pendidikan akan dapat dilihat apabila alat evaluasi yang digunakan sesuai dan dapat mengukur setiap tujuan. Alat ukur yang tidak relevan dapat mengakibatkan hasil pengukuran tidak tepat bahkan salah sama sekali.

Ujian akhir nasional (UAN) merupakan salah satu alat evaluasi yang dikeluarkan Pemerintah yang, menurut pendapat saya, merupakan bentuk lain dari Ebtanas (Evaluasi Belajar Tahap Akhir) yang sebelumnya dihapus. Benarkah UAN merupakan alat ukur yang sesuai untuk mengukur tingkat pencapaian tujuan pendidikan yang telah ditetapkan? Makalah ini mencoba untuk mengupas apakah evaluasi dalam bentuk UAN dapat menjawab pertanyaan tentang tingkat ketercapaian tujuan pendidikan. Pembahasan dimulai dari tujuan pendidikan, evaluasi, dan diakhiri dengan rekomendasi tentang perlu dan tidaknya evaluasi yang bersifat nasional.

2. Kurikulum dan Evaluasi

Sebelum berbicara tentang evaluasi, terlebih dahulu akan dikemukakan tentang kurikulum sebagai cara untuk mencapai tujuan pendidikan. Kurikulum mencakup fokus program, media instruksi, organisasi materi, strategi pembelajaran, manajemen kelas, dan peranan pengajar (Arieh Lewy, 1977:7-8). Di Indonesia sekarang sedang dikembangkan kurikulum berbasis kompetensi (KBK) yang merupakan seperangkat rencana dan pengaturan tentang kompetensi yang dibakukan untuk mencapai tujuan pendidikan nasional (Kurikulum 2004, 2003 ¡V belum disahkan tetapi telah dipublikasikan baik via website maupun cetak oleh Pusat Kurikulum, Balitbang Diknas).

Kompetensi sebagaimana dimaksud dalam draft tersebut merupakan pengetahuan, keterampilan, sikap dan nilai-nilai yang dimiliki oleh peserta didik yang diwujudkan dalam kebiasaan berpikir dan bertindak. Selanjutnya dijelaskan bahwa kompetensi dapat diketahui melalui sejumlah hasil belajar dengan indikator tertentu. Kompetensi dapat dicapai melalui pengalaman belajar yang dikaitkan dengan bahan kajian dan bahan pelajaran secara kontekstual.

Cara mencapai kompetensi yang dibakukan disesuaikan dengan keadaan daerah dan atau sekolah. Berkaitan dengan hal ini dalam pelaksanaan kurikulum dikenal istilah diversifikasi kurikulum, maksudnya adalah bahwa kurikulum dikembangkan dengan menggunakan prinsip perbedaan kondisi dan potensi daerah, termasuk perbedaan individu peserta didik.

Evaluasi yang diterapkan seharusnya dapat menjawab pertanyaan tentang ketercapaian tujuan pendidikan nasional. Untuk mengingat kembali, tujuan pendidikan nasional sebagaimana tertuang dalam Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 bahwa pendidikan

"bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab" (Pasal 3).

Dalam tujuan pendidikan di atas terdapat beberapa kata kunci antara lain iman dan takwa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan demokratis. Konsekuensinya adalah evaluasi yang diterapkan harus mampu melihat sejauh mana ketercapaian setiap hal yang disebutkan dalam tujuan tersebut. Evaluasi harus mampu mengukur tingkat pencapaian setiap komponen yang tertuang dalam tujuan pendidikan. Pertanyaannya adalah bagaimana pelaksanaan evaluasi pendidikan di Indonesia? Apakah evaluasi yang dipakai dapat menjawab semua pertanyaan tentang tingkat pencapaian tujuan sebagaimana disebutkan dalam Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional? Pada bagian berikut akan dibahas penerapan sistem evaluasi di Indonesia dalam bentuk UAN.

3. UAN dan Permasalahannya

Pemerintah telah mengambil kebijakan untuk menerapkan UAN sebagai salah satu bentuk evaluasi pendidikan. Menurut Keputusan Menteri Pendidikan Nasional No. 153/U/2003 tentang Ujian Akhir Nasional Tahun Pelajaran 2003/2004 disebutkan bahwa tujuan UAN adalah untuk mengukur pencapaian hasil belajar peserta didik melalui pemberian tes pada siswa sekolah lanjutan tingkat pertama dan sekolah lanjutan tingkat atas. Selain itu UAN bertujuan untuk mengukur mutu pendidikan dan mempertanggungjawabkan penyelenggaraan pendidikan di tingkat nasional, provinsi, kabupaten, sampai tingkat sekolah.

UAN berfungsi sebagai alat pengendali mutu pendidikan secara nasional, pendorong peningkatan mutu pendidikan secara nasional, bahan dalam menentukan kelulusan peserta didik, dan sebagai bahan pertimbangan dalam seleksi penerimaan pada jenjang pendidikan yang lebih tinggi. UAN merupakan salah satu bentuk evaluasi belajar pada akhir tahun pelajaran yang diterapkn pada beberapa mata pelajaran yang dianggap ¡§penting¡¨, walaupun masih ada perdebatan tentang mengapa mata pelajaran itu yang penting dan apakah itu berarti yang lain tidak penting. Benarkah bahwa matematika, IPA, dan Bahasa Inggris merupakan tiga mata pelajaran yang paling penting?

Pertanyaan yang muncul adalah apakah sistem evaluasi dalam bentuk UAN dapat menjawab semua informasi yang diperlukan dalam pencapaian tujuan? Apakah UAN dapat memberikan informasi tentang keimanan dan ketakwaan peserta didik terhadap Tuhan Yang Maha Esa? Apakah UAN dapat menjawab tingkat kreativitas dan kemandirian peserta didik? Apakah UAN dapat menjawab sikap demokratis anak? Dapatkah UAN memberikan semua informasi tentang tingkat ketercapaian tujuan pendidikan yang telah ditetapkan tersebut?

Evaluasi seharusnya dapat memberikan gambaran tentang pencapaian tujuan sebagaimana yang tertuang dalam Undang-Undang No. 20 tahun 2003. Evaluasi seharusnya mampu memberikan informasi tentang sejauh mana kesehatan peserta didik. Evaluasi harus mampu memberikan tiga informasi penting yaitu penempatan, mastery, dan diagnosis. Penempatan berkaitan dengan pada level belajar yang mana seorang anak dapat ditempatkan sehingga dapat menantang tetapi tidak frustasi? Mastery berkaitan dengan apakah anak sudah memiliki pengetahuan dan kemampuan yang cukup untuk menuju ke tingkat berikutnya? Diagnosis berkaitan dengan pada bagian mana yang dirasa sulit oleh anak? (McNeil, 1977:134-135). UAN yang dilakukan hanya dengan tes akhir pada beberapa mata pelajaran tidak mungkin memberikan informasi menyeluruh tentang perkembangan peserta didik sebelum dan setelah mengikuti pendidikan.

Dalam Keputusan Mendiknas No. 153/U/2003 terdapat ketidaksinambungan antara tujuan, fungsi, dan bentuk ujian. Pertama, bahwa pelaksanaan UAN bertujuan untuk mengukur pencapaian hasil belajar peserta didik melalui pemberian tes. Dari pernyataan tersebut muncul beberapa pertanyaan antara lain:

"« Dapatkah tes yang dilaksanakan di bagian akhir tahun pelajaran memberikan gambaran tentang perkembangan pendidikan peserta didik?

"« Dapatkah tes tersebut memperhatikan proses belajar mengajar dalam keseharian?

"« Dapatkah tes tertulis melihat aspek sikap, semangat dan motivasi belajar anak?

"« Dapatkah tes di ujung tahun ajaran menyajikan keterampilan siswa yang sesungguhnya?

"« Bagaimana kalau terjadi anak sakit pada saat mengikuti tes?

"« Apakah hasil tes dapat menggambarkan kemampuan dan keterampilan anak selama mengikuti pelajaran?

Pertanyaan-pertanyaan di atas tidak mudah untuk memperoleh jawabannya bila dengan hanya memberikan tes pada akhir tahun pelajaran. Hasil belajar bukan hanya berupa pengetahuan yang lebih banyak bersifat hafalan, tetapi juga berupa keterampilan, sikap, motivasi, dan perilaku yang tidak semuanya dapat diukur dengan menggunakan tes karena melibatkan proses belajar. Dengan kata lain terjadi pertentangan antara tujuan yang ingin dicapai dengan bentuk ujian yang diterapkan, karena pengukuran hasil belajar tidak bisa diukur hanya dengan memberikan tes di akhir tahun pelajaran saja.

Kedua, tujuan ujian sebagaimana disebutkan dalam Keputusan Mendiknas di atas adalah untuk mengukur mutu pendidikan di tingkat nasional, provinsi, kabupaten, sampai tingkat sekolah. Lagi pertanyaan yang serupa dengan pertanyaan-pertanyaan di atas muncul, seperti apakah mutu pendidikan dapat diukur dengan memberikan ujian akhir secara nasional di akhir tahun ajaran? Apalagi bila dihadapkan mutu pendidikan dari aspek sikap dan perilaku siswa, apakah bisa dilihat hanya pada saat sekejap di penghujung tahun? Mutu pendidikan pada tingkat nasional dapat dilihat dengan berbagai cara, tetapi pelaksanaan UAN sebagaimana yang dipraktekkan belum menjawab pertanyaan sejauh mana mutu pendidikan di Indonesia, apakah menurun atau meningkat dari tahun sebelumnya. Bahkan terdapat indikasi bahwa soal-soal UAN (yang dulu disebut Ebtanas) berbeda dari tahun ke tahun, dan seandainya hal ini benar maka akibatnya tidak bisa dibandingkannya hasil ujian antara tahun lalu dengan sekarang. Selain itu mutu pendidikan tidak mungkin diukur dengan hanya memberikan tes pada beberapa mata pelajaran ¡§penting¡¨ saja, apalagi dilaksanakan sekali di akhir tahun pelajaran. Mutu pendidikan terkait dengan semua mata pelajaran dan pembiasaan yang dipelajari dan ditanamkan di sekolah, bukan hanya pengetahuan koqnitif saja. UAN tidak akan dapat menjawab pertanyaan seberapa jauh perkembangan anak didik dalam mengenal seni, olah raga, dan menyanyi. UAN tidak akan mampu melihat mutu pendidikan dari sisi percaya diri dan keberanian siswa dalam mengemukakan pendapat dan bersikap demokratis. Dengan kata lain, UAN tidak akan mampu menyediakan informasi yang cukup mengenai mutu pendidikan. Artinya tujuan yang diinginkan masih terlalu jauh untuk dicapai hanya dengan penyelenggaraan UAN.

Ketiga, ujian bertujuan untuk mempertanggungjawabkan penyelenggaraan pendidikan kepada masyarakat. Adalah ironis kalau UAN dipakai sebagai bentuk pertanggungjawaban penyenggaraan pendidikan, karena pendidikan merupakan satu kesatuan terpadu antara kognitif, afektif, dan psikomotor. Selain itu pendidikan juga bertujuan untuk membentuk manusia yang berakhlak mulia, berbudi luhur, mandiri, cerdas, dan kreative yang semuanya itu tidak dapat dilihat hanya dengan penyelenggaraan UAN. Dengan kata lain, UAN belum memenuhi syarat untuk dipakai sebagai bentuk pertanggungjawaban penyelenggaraan pendidikan kepada masyarakat.

Jika dihubungkan dengan kurikulum, maka UAN juga tidak sejalan dengan salah satu prinsip yang dianut dalam pengembangan kurikulum yaitu ¡§diversifikasi kurikulum¡¨. Artinya bahwa pelaksanaan kurikulum disesuaikan dengan situasi dan kondisi daerah masing-masing. Kondisi sekolah di Jakarta dan kota-kota besar tidak bisa disamakan dengan kondisi sekolah-sekolah di daerah perkampungan, apalagi di daerah terpencil. Kondisi yang jauh berbeda mengakibatkan proses belajar mengajar juga berbeda. Sekolah di lingkungan kota relatif lebih baik karena sarana dan prasana lebih lengkap. Tetapi di daerah-daerah pelosok keberadaan sarana dan prasarana serba terbatas, bahkan kadang jumlah guru pun kurang dan yang ada pun tidak kualified akibat ketiadaan. Kebijakan penerapan UAN untuk semua sekolah di Indonesia telah melanggar prinsip tersebut dan mengakibatkan ketidak adilan karena ibarat mengetes atletik tingkat pelatnas yang setiap hari dilatih dengan segala sarana dan prasarana termasuk pelatih yang memadai dengan atletik kampung yang memiliki sarana seadanya. Tentu saja hasilnya jauh berbeda, tetapi kebijakan yang diambil adalah menyamakan mereka.

Pelaksanaan UAN hanya pada beberapa mata pelajaran yang dianggap ¡§penting¡¨ juga memiliki permasalahan tersendiri. Benarkah hanya matematika, bahasa Indonesia yang merupakan mata pelajaran penting? Bagaimana kalau ada anak yang memiliki bakat untuk melukis, apakah itu berarti bahwa pelajaran seni jelas merupakan pelajaran penting bagi dia? Bagaimana juga dengan anak yang bercita-cita menjadi olahragawan yang berarti bahwa pelajaran olah raga merupakan pelajaran yang penting bagi dia? Kalau begitu kata ¡§penting¡¨ di sini untuk siapa? Pelaksanaan UAN pada beberapa mata pelajaran akan mendorong guru untuk cenderung mengajarkan mata pelajaran tersebut, karena yang lain tidak akan dilakukan ujian nasional. Hal ini dapat berakibat terkesampingnya mata pelajaran lain, padahal tidak semua anak senang pada mata pelajaran yang diujikan. Akibat dari kondisi ini adalah terjadi peremehan terhadap mata pelajaran yang tidak dilakukan pengujian.

Beberapa orang berpendapat bahwa UAN bertentangan dengan kebijakan otonomi daerah sebagaimana diatur dalam Undang-Undang No. 22 Tahun 1999. Hal ini dapat dipahami sebagai berikut. Kebijakan UAN dilaksanakan bersamaan dengan dikeluarkannya kebijakan otonomi daerah. Selain itu pada saat yang sama juga dikenalkan kebijakan otonomi sekolah melalui manajemen berbasis sekolah. Evaluasi sudah seharusnya menjadi hak dan tanggung jawab daerah termasuk sekolah, tetapi pelaksanaan UAN telah membuat otonomi sekolah menjadi terkurangi karena sekolah harus tetap mengikuti kebijakan UAN yang diatur dari pusat. Selain itu UAN berfungsi untuk menentukan kelulusan siswa. Padahal pendidikan merupakan salah satu bidang yang diotonomikan, kecuali sistem dan perencanaan pendidikan yang diatur secara nasional termasuk kurikulum. Di sisi lain, dengan adanya kebijakan otonomi sekolah yang berhak meluluskan siswa adalah sekolah melalui kebijakan manajemen berbasis sekolah. UAN telah dijadikan alat untuk ¡§menghakimi¡¨ siswa, tetapi dengan cara yang tanggung karena dengan memberikan batasan nilai minimal 4.00. Dengan menetapkan nilai serendah itu, maka berarti bahwa standar mutu pendidikan di Indonesia memang ditetapkan sangat rendah. Kalau direnungkan, apa arti nilai 4 pada suatu ujian. Nilai 4 dapat diartikan hanya 40% dari seluruh soal yang diujikan dikuasai, padahal secara umum pada bagian lain diakui bahwa nilai yang dapat diterima untuk dinyatakan cukup atau baik adalah di atas 6. Dengan kata lain, UAN selain menetapkan standar mutu pendidikan yang sangat rendah telah ¡§menghakimi¡¨ semua siswa tanpa melihat latar belakang, situasi, kondisi, sarana dan prasarana serta proses belajar mengajar yang dialami terutama siswa di daerah pedesaan.

4. Bagaimana Evaluasi Pendidikan Seharusnya Dilakukan

Evaluasi harus mampu menjawab semua informasi tentang tingkat pencapaian tujuan yang telah ditentukan. Pendidikan yang diarahkan untuk melahirkan tenaga cerdas yang mampu bekerja dan tenaga kerja yang cerdas tidak dapat diukur hanya dengan tes belaka (Soedijarto, 1993a:17). Untuk itu evaluasi harus mampu menjawab kecerdasan peserta didik sekaligus kemampuannya dalam bekerja. Sistem evaluasi yang lebih banyak berbentuk tes obyektif akan membuat peserta didik mengejar kemampuan kognitif dan bahkan dapat dicapai dengan cara mengafal saja. Artinya anak yang lulus ujian dalam bentuk tes obyektif belum berarti bahwa anak tersebut cerdas apalagi terampil bekerja, karena cukup dengan menghafal walaupun tidak mengerti maka dia dapat mengerjakan tes. Sebagai konsekuensinya harus dikembangkan sistem evaluasi yang dapat menjawab semua kemampuan yang dipelajari dan diperoleh selama mengikuti pendidikan. Selain itu pendidikan harus mampu membedakan antara anak yang mengikuti pendidikan dengan anak yang tidak mengikuti pendidikan. Dengan kata lain evaluasi tidak bisa dilakukan hanya pada saat tertentu, tetapi harus dilakukan secara komperehensif atau menyeluruh dengan beragam bentuk dan dilakukan secara terus menerus dan berkelanjutan (Soedijarto, 1993b:27-29).

Bisakah UAN dipertahankan? Sebagaimana dikemukakan sebelumnya bahwa UAN banyak bertentangan bahkan dengan tujuannya sendiri, sehingga sulit dipertahankan. Seandainya Pemerintah tetap memilih untuk mempertahankan UAN maka selama itu perdebatan dan ¡§ketidakadilan¡¨ akan terjadi di dunia pendidikan karena memperlakukan tes yang sama kepada semua anak Indonesia yang kondisinya diakui berbeda-beda. Selain itu salah satu prinsip pendidikan adalah berpusat pada anak, artinya pendidikan harus mampu mengembangkan potensi yang dimiliki anak. Seorang anak yang berpotensi untuk menjadi seorang seniman tidak bisa dipaksakan untuk menguasai matematika kalau dia sendiri tidak menyukainya dan berpikir tidak relevan dengan seni yang digelutinya. Memperlakukan semua anak dengan memberikan UAN sama artinya menganggap semua anak berpotensi sama untuk menguasai mata pelajaran yang diujikan, padahal kenyataannya berbeda.

Bagaimana evaluasi pendidikan yang sebaiknya dilakukan? Menurut pendapat saya, evaluasi sepenuhnya diserahkan kepada sekolah. Sistem penerimaan siswa pada jenjang berikutnya dilakukan dengan cara diberikan tes masuk oleh sekolah masing-masing. Dengan cara demikian, maka setiap sekolah akan menetapkan standar sendiri melalui tes masuk yang dipakai. Sekolah yang berkualitas akan memiliki tes masuk yang relevan, dan sekolah yang kurang bermutu akan ditinggalkan masyarakat. Selain itu sekolah yang menghasilkan lulusan yang tidak bisa menerobos ke sekolah berikutnya juga akan ditinggalkan masyarakat. Dengan demikian akan terjadi persaingan sehat antar sekolah dalam menghasilkan lulusan yang terbaik dalam arti dapat melanjutkan ke sekolah berikutnya. Sistem penerimaan dengan mengacu pada UAN akan berakibat pada manipulasi data, bahkan membuka peluang terjadinya kecurangan. Pada umumnya sekolah berlomba-lomba untuk meluluskan siswa-siswanya dengan cara memberikan nilai kelulusan yang tinggi. Tetapi dengan adanya tes masuk pada sekolah berikutnya (kecuali masuk SLTP harus lanjut karena masih dalam cakupan wajib belajar), maka sekolah akan berlomba untuk membuat siswanya disamping lulus juga diterima di sekolah berikutnya.

Sistem evaluasi yang diserahkan sepenuhnya ke sekolah bukan berarti tidak diperlukan pedoman atau petunjuk teknis. Pedoman untuk melakukan evaluasi tetap diperlukan dalam memberikan guidance bagi guru agar dalam melakukan evaluasi tetap mengacu kepada kaedah-kaedah evaluasi yang berlaku secara umum. Jika UAN tetap dipertahankan maka tujuan dan pelaksanaannya harus dimodifikasi. Sebagai contoh bahwa UAN bukan bertujuan untuk menentukan kelulusan siswa tetapi dipakai sebagai pengendalian mutu pendidikan. Artinya UAN tidak perlu dikaitkan dengan kelulusan siswa, tetapi untuk mengetahui perkembangan pendidikan pada umumnya. Dengan tujuan ini maka standar nilai UAN haruslah minimal 6 sebagaimana pada umumnya dan hanya berpengaruh pada kredibilitas sekolah.

Sistem pelaporan hasil belajar dalam bentuk raport perlu direformasi dengan bentuk lain yang lebih komperehensif. Sebagai contoh apa arti seorang anak memperoleh nilai 8 pada mata pelajaran Bahasa Indonesia di raportnya? Apakah itu berarti anak tersebut menguasai pidato dengan baik, dapat menulis puisi, dan mampu berdebat? Informasi nilai yang ada diraport tidak dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut. Sehingga nilai raport perlu dimodifikasi sehingga dapat memberikan informasi yang selengkap-lengkapnya tentang kemampuan yang telah dimiliki anak. Sebagai contoh, bahwa untuk laporan hasil belajar bahasa Indonesia perlu mencakup kemampuan tentang membaca, berbicara, mengemukakan pendapat, kemampuan menulis, membuat karangan, berpidato, sikap menghargai orang lain, dan sebagainya. Hal yang sama dikembangkan untuk mata pelajaran yang lain. Model penilaian dengan menggunakan portfolio mungkin lebih baik daripada sistem raport yang digunakan saat ini.

Referensi:

Arieh Lewy (Editor). 1977. Handbook of Curriculum Evaluation. Paris: International Institute for Educational Planning
McNeil, John D. 1977. Curriculum A Comprehensive Introduction. Boston: Little, Brown and Company
Pusat Pengembangan Kurikulum. 2003. Kurikulum 2004 Kerangka Dasar (draft). Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional
Soedijarto, Prof., DR, MA. 1993a. Menuju Pendidikan Nasional Yang Relevan dan Bermutu.Jakarta: Balai Pustaka
Soedijarto, Prof., DR, MA. 1993b. Memantapkan Sistem Pendidikan Nasional. Jakarta: Grasindo
Undang-undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional
Undang-undang No. 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah


Penulis: Ngadirin
no image

Beasiswa Kuliah

Anda ingin kuliah ke luar negeri tapi tidak punya cukup biaya. Silakan baca dan pelajari link-link beasiswa di bawah ini. Semua link ini menawarkan beasiswa dengan atau tanpa syarat yang mengikat tergantung keinginan anda.



AMINEF
Fulbright Legacy Programs for Indonesians Programs for Americans Educational Advising Services News Briefs AMINEF Directory Useful Links Fulbright Grantee Directory Download Forms FAQ PreDeparture Orientation Images
Tuesday, March 13, 2007 07:00:19


Asian Development Bank - Japan Scholarship Program
The Asian Development Bank (ADB) - Japan Scholarship Program (JSP) was established in April 1988 with financing from the Government of Japan. It aims to provide an opportunity for well-qualified citizens of ADB's developing member countries to ...
Tuesday, March 13, 2007 05:30:35

Asian Development Bank-Japan Scholarship Program - List of Academic Institutions - ADB.org
Asian Development Bank-Japan Scholarship Program - List of Academic Institutions - ADB.org
Tuesday, March 13, 2007 07:04:53

Asian Scholarship Foundation - Bangkok, Thailand
ASF grants are made available to scholars, researchers and professionals who are citizens of or residents in any of the following participating countries: Bangladesh, Bhutan, Brunei, Cambodia, the People’s Republic of China, Hong Kong, India, Indones...
Tuesday, March 13, 2007 05:44:35

Astronaut Scholarship Foundation: Astronaut Scholars
Astronaut Scholars are immersed in nearly every frontier of technology as astronomers, biologists, chemists, consultants, engineers in practically every discipline, entrepreneurs who have started technology companies, inventors, mathematicians, milit...
Tuesday, March 13, 2007 05:45:33

Australia Development Scholarship
Australian Development Scholarship (ADS) are funded by the government of Australia for postgraduate study at Australian Universities. The main goal of ADS is to promote Indonesia's human resource capacity to contribute to:Improving economic manageme...
Tuesday, March 13, 2007 05:30:54

Australian Development Scholarships (ADS)
Australian Development Scholarships (ADS) are a highly-valued form of development cooperation between Australia and partner countries with which Australia has a bilateral aid program. ADS provide partner countries with the opportunity to strengthen i...
Tuesday, March 13, 2007 05:50:38

British Chevening Scholarships
Chevening is the UK government’s flagship scholarship scheme, aimed at future leaders, high achievers, opinion formers and decision-makers. The programme funded by the Foreign and Commonwealth Office (FCO) and administered by the British Council, sup...
Tuesday, March 13, 2007 06:10:50

City University London
SCHOLARSHIPS AND FEES
Tuesday, March 13, 2007 06:14:14

College Scholarships, Colleges, and Online Degrees
The College Scholarships, Colleges, and Online Degrees page is designed to offer college-bound, graduate school-bound, and career school bound students of all ages information easy access to information about a wide variety of subjects. We have put ...
Tuesday, March 13, 2007 06:17:58

CollegeNet.Com
Use this section to quickly find a particular scholarship or group of scholarships whose descriptions contain a specific keyword. For example, if you want to find scholarships whose descriptions contain 'soccer' use 'soccer' as your keyword.
Tuesday, March 13, 2007 02:18:45

Consultation Services for Foreign Residents
The Shiga Intercultural Association for Globalization, in granting this scholarship to qualified persons studying at junior colleges, universities and graduate schools within Shiga Prefecture, aims to aid students in enhancing their education and lif...
Tuesday, March 13, 2007 06:05:15

Cornell University Graduate School -- Fellowship database
Mencari Scholarships di database ini.
Tuesday, March 13, 2007 01:34:04

CSEAS Fellowship for Visiting Scholars
The Center for Southeast Asian Studies of Kyoto University accepts applications in the spring and the fall from scholars and researchers who work on Southeast Asia, or on any one of the countries in the region, and are interested in spending time in ...
Tuesday, March 13, 2007 06:28:21

DAAD - Scholarship database
Looking for an overview of the various types of funding offered by the DAAD or of the programmes offered by other funding organisations for a study stay in Germany? Well, this is where you can find information on various kinds of DAAD funding for...
Tuesday, March 13, 2007 06:33:37

EAST-WEST CENTER: an internationally recognized education and research organization on Asia Pacific
Mencari scholarships East Timor Scholarship Program UNITED STATES EAST TIMOR SCHOLARSHIP PROGRAM 2006 (for Spring 2007) 2006 U.S.-East Timor Scholarship Application Pack Scholarship Announcement -pdf Information for Applicants ... 2006 United States East
Tuesday, March 13, 2007 06:22:33

East-West Center: Education
Scholarship and Fellowship
Tuesday, March 13, 2007 06:39:38

ENRO - Living Costs and Scholarships
The Scholarships for ENRO Students
Tuesday, March 13, 2007 06:54:18

Faculty of Economics and Business Administration-Scholarships
Universiteit Maastricht welcomes talented students to study in a challenging and interactive environment. Locally based multinational corporations are willing to support top students and offer many scholarships.
Tuesday, March 13, 2007 07:01:17

Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia » Beasiswa & Karir
Beasiswa yang tersedia di Fasilkom UI, meliputi: Beasiswa POMDA Beasiswa Alumni Beasiswa dari UI Informasi bursa kerja, selain ditempelkan di billboard Fakultas, juga diumumkan dalam forum mahasiswa dan website Fasilkom
Tuesday, March 13, 2007 05:50:22

Fellowships - Institute of Social Studies, The Hague
ISS receives a majority of students on a partial or full scholarship programme. While in the past many of our students have enjoyed the studies on a Netherlands Fellowship Programme (NFP), there is an increasing degree who apply for other scholarship...
Wednesday, March 14, 2007 10:18:57

Fellowships for Minority Doctoral Students
The primary objective of the AICPA Fellowships for Minority Doctoral Students is to enable more minorities to enter and move ahead in the accounting profession and academe. Recognizing the fact that professors serve as role models, a second objective...
Tuesday, March 13, 2007 05:31:51

Fellowships on International Institute for Geo-Information Science and Earth Observation
Applications for admission are processed and decided upon irrespective of the financial situation of the applicant. It is assumed that applicants will be capable of meeting their travel expenses and of financing their study, residential and other cos...
Wednesday, March 14, 2007 09:55:27

FinAid | Scholarships
Undergraduate scholarships and graduate fellowships are forms of aid that help students pay for their education. Unlike student loans, scholarships and fellowships do not have to be repaid. Hundreds of thousands of scholarships and fellowships from s...
Wednesday, March 14, 2007 08:59:03

Financial aid offices of the University of Hawaii System
Here are just some of the scholarship opportunities available at the University of Hawai‘i. Use the links and information on this page to find out more.
Wednesday, March 14, 2007 09:00:41

FreeScholarshipGuide.com
You can use the $5,000 Scholarship for any College, University, or Education Program, online or offline, to pay for Student Loans, or even give the Scholarship to a Family Member or Friend. Our Scholarship is given away twice per year. The $5,000 can...
Tuesday, March 13, 2007 06:05:30

GRIPS Scholarships
Full scholarships, partially managed by GRIPS, are available for exceptionally qualified candidates who have been accepted for study at GRIPS. These scholarships are provided by the Japanese Government (MEXT), the Japan International Cooperation Agen...
Wednesday, March 14, 2007 08:59:47

Guaranteed Scholarships and Financial Aid
By guaranteed scholarships, we mean those which are unlimited in number, and require no interview, essay, portfolio, audition, competition or other secondary requirement. Just meet the criteria listed, adhere to the application deadlines set by t...
Wednesday, March 14, 2007 09:00:03

HawCC Scholarships
Hawaii Community College offers a number of scholarships to incoming and currently enrolled students each year. Internal Scholarships are awarded through the Financial Aid Office. If funds are available and you meet the requirements, you may receive ...
Wednesday, March 14, 2007 09:45:49

Home Page : Melbourne Scholarships Office : The University of Melbourne
Undergraduate and Postgraduate Scholarships at the university of Melbourne
Tuesday, March 13, 2007 07:09:33

IATEFL provides a number of scholarships for English teachers
IATEFL provides a number of scholarships for English teachers. Ray Tongue Fund Conference scholarship for teachers from East and South East Asia
Sunday, March 18, 2007 10:08:32

IIE Online: Institute of International Education
IIE, an independent non-profit organization founded in 1919, is a world leader in the exchange of people and ideas. The Institute administers over 200 programs serving more than 20,000 individuals each year.
Tuesday, March 13, 2007 06:43:02

Informasi Beasiswa Luar Negeri
BEASISWA LUAR NEGERI - DATABASE
Tuesday, March 13, 2007 06:39:20

International Scholarship - Abe Fellowship Program
To encourage international multidisciplinary research on topics of pressing global concern. The program seeks to foster the development of a new generation of Japanese and American researchers who are interested in policy-relevant topics of long-rang...
Tuesday, March 13, 2007 05:45:13

International Scholarship - Presidential Award
Awarded to non-resident and Interntaional graduate students who have met graduate school requirements. $741 for Manitoba and Saskatchewan residents per academic year. $4,209 for non-resident International students per academic year.
Tuesday, March 13, 2007 05:44:57

International Scholarship Search | Free College Scholarship Search for International Student Exchang
International Scholarship Search Free College Scholarship Search for International Student Exchange and Study Abroad. International Student & Study Abroad Scholarship Search. It is our goal to provide you - the international student - with the best study
Tuesday, March 13, 2007 06:10:34

International Scholarships
Covers costs associated with earning four year's bachelor's degree at Wesleyan University for students from eleven countries in Asia. Students already enrolled in university studies are not eligible. Can only be used for study at Wesleyan Universit...
Tuesday, March 13, 2007 05:36:30

International Scholarships - AIMR
The fund will provide annual scholarship grants to the casualties of the September 11 terrorist attacks and their spouses, domestic partners, and dependents. People from any country are eligible to apply.
Tuesday, March 13, 2007 05:36:42

International scholarships and exchanges funded by the Australian Government
The Endeavour Programme is an Australian Government initiative, bringing together under the one umbrella all of the Department’s international scholarships. Our objective is to establish the Endeavour Awards Programme as a prestigious scholarship pro...
Tuesday, March 13, 2007 06:28:45

International Scholarships and Postdoctoral Fellowships
We deliver international scholarship, postdoctoral fellowships for international students. Students can access scholarship information for free, and providers can submit scholarship listing for free.
Tuesday, March 13, 2007 07:23:24

International Scholarships | Abba Schwartz Fellowship
To support research at the Kennedy Library in the areas of immigration, naturalization or refugee policy.
Tuesday, March 13, 2007 05:45:50

International Scholarships | Browse Awards
PREMIER SCHOLARSHIP DATABASE
Tuesday, March 13, 2007 05:50:54

John L. Carey Scholarships
This scholarship program provides financial assistance to liberal arts degree holders pursuing graduate studies in accounting. These awards are intended to encourage liberal arts undergraduates to consider professional accounting careers. Applica...
Tuesday, March 13, 2007 05:31:23

Men's and Women's Athletic Scholarships: Opportunities for College Students
How to Get an Athletic Scholarship Athletic Scholarships Are Competitive Athletes, by their very nature, are competitive. Obviously, not everyone will be awarded an athletic scholarship. These college funds are perhaps some of the most elusive and ...
Tuesday, March 13, 2007 04:49:32

MIC: Scholarship
MIC offers a wide variety of opportunities to help you achieve your educational goals. Some scholarship awards are made on the basis of academic performance and others on the basis of financial need. This You must complete the general application ma...
Tuesday, March 13, 2007 07:01:01

Nationally Coveted College Scholarships and Graduate Fellowships
Nationally Coveted College Scholarships, Graduate Fellowships and Postdoctoral Awards Highly Competitive and Prestigious Scholarship, Fellowship and Internship Awards for College Study, Graduate School and Postgraduate Research Free Financial Aid, S...
Tuesday, March 13, 2007 04:46:59

Open Scholarship 2006 Conference - Home
Open Scholarship : New Challenges for Open Access Repositories is a companion European Conference to the OAI meetings at CERN in Geneva, and to the Nordic Scholarly Communication Conferences in Lund, Sweden, and is aimed at Librarians, University Adm...
Wednesday, March 14, 2007 08:59:28

PANASONIC INDONESIA
Panasonic Scholarship
Tuesday, March 13, 2007 07:21:54

Portal For Education in Thailand
OTHER FUNDS AND SCHOLARSHIPS
Tuesday, March 13, 2007 06:53:49

SCHOLARSHIP IN DIFFERENT NATIONALITIES
SCHOLARSHIPS AVAILABLE TO STUDY AT THE ASIAN INSTITUTE OF TECHNOLOGY (AIT) FOR DIFFERENT NATIONALITIES CAN BE SEEN HERE
Tuesday, March 13, 2007 05:32:09

Scholarship Opportunities in Honolulu
Financial Aid Office
Wednesday, March 14, 2007 09:54:05

Scholarship Search - Find Scholarships Online Free - Grants, Internships
Welcome to the College Board's Scholarship Search! We created this online tool to help you locate scholarships, internships, grants, and loans that match your education level, talents, and background. Complete the brief questionnaire and Scholars...
Tuesday, March 13, 2007 01:17:54

Scholarships for Research Degrees : The Australian Centre : The University of Melbourne
The University allocates a number of scholarships to provide postgraduate research students with a stipend. These are largely based on assessment of your previous study results and applications are due late October each year. For local students, ...
Tuesday, March 13, 2007 06:04:57

Search results for keyword(s) scholarships
Use the Search Engine and look for Scholarships Mencari Scholarships - BANYAK!
Tuesday, March 13, 2007 01:28:03

Siswa Org - Organisasi Siswa-Siswi Indonesia Info & Beasiswa
Organisasi, Komunikasi dan Solidaritas antara siswa-siswi dan mahasiswa-mahasiswi adalah hal yang paling penting untuk meningkatkan mutu pendidikan dan mutu hidup rakyat Indonesia terhadap masa depan.
Tuesday, March 13, 2007 01:15:30

SSRC :: Fellowships
FELLOWSHIPS: SSRC fellowship and grant programs provide support and professional recognition to innovators within fields, and especially to younger researchers whose work and ideas will have longer-term impact on society and scholarship.
Tuesday, March 13, 2007 07:15:32

Study Abroad with CIEE International Study Programs
CIEE Scholarships For many students, a study abroad experience is only possible with financial assistance. Each year CIEE awards scholarships and grants to students who plan to study overseas. Please read the eligibility criteria and the application proce
Tuesday, March 13, 2007 05:44:17

Swiss Scholarships
Through the Federal Commission for Scholarships for Foreign Students (FCS), the Swiss Government grants foreign students university scholarships (Swiss universities, Federal Institutes of Technology). These scholarships are offered on the basis of re...
Tuesday, March 13, 2007 06:22:45

The Gates Cambridge Scholarship
The Gates Cambridge Trust offers about 100 awards annually, which cover the full costs of studying at Cambridge
Tuesday, March 13, 2007 07:11:37

The HOPE Scholarship and Lifetime Learning Credits
$1,500 HOPE Scholarship to make the first two years of college universally available. For students in the first two years of college (or other eligible post-secondary training), taxpayers will be eligible for a tax credit equal to 100% of the first $...
Tuesday, March 13, 2007 06:43:18

The Nippon Foundation API Fellowships, Philippines
As Asia moves into the 21st century, it faces political, economic, and social challenges that transcend national boundaries. To meet these challenges, the region needs a pool of intellectuals who are willing to be active in the public sphere and can ...
Tuesday, March 13, 2007 01:12:05

The University of Exeter - Scholarships and Bursaries Home page
If you have the talent and ability to excel, we want to ensure that you have the opportunity to study with us no matter what your financial circumstances are.
Tuesday, March 13, 2007 06:54:45

The University of Wales Aberystwyth
Since our foundation in 1872, the University has received generous donations and bequests which make it possible to financially assist students through the annual award of about 50 Entrance Scholarships and some 300 Merit Awards. These awards are...
Tuesday, March 13, 2007 05:30:17

Tylenol Scholarships
We understand that while medicine may treat the condition, it takes people to treat the patient. That's why the makers of Tylenol are giving away $250,000 in scholarships to students pursuing careers in healthcare.
Tuesday, March 13, 2007 04:48:54

Union Plus Scholarship Database
A better quality of life through education has always been a key goal of the labor movement. Every year, thousands of students enrolled in college receive scholarships and grants from labor unions. This database describes more than $4 million in s...
Tuesday, March 13, 2007 05:31:09

University of Chester-Scholarships Program
An Organ scholarship, currently worth £750, is available to a suitable candidate. The role involves taking an active part in playing and supporting music in the University, especially through Chapel. Details are available from the Director of Music, ...
Tuesday, March 13, 2007 06:08:11

Minggu, 18 November 2007
no image

Upacara Bendera & Nasionalisme

Setiap hari Senin semua sekolah dari tingkat dasar sampai tingkat menengah atas di Indonesia melaksanakan upacara bendera. Salah satu tujuan yang ingin di capai dari kegiatan rutin ini adalah untuk meningkatkan rasa nasionalisme peserta upacara. Tapi benarkah demikian?

Sejak dari sekolah di kelas I SD sampai dengan kelas III SMA, saya selalu mengikuti upacara bendera. Saking sudah seringnya mengikuti, saya sampai menganggap kegiatan ini hanya sekedar rutinitas penaikan bendera merah putih.

Berbaris, penghormatan umum, pembacaan Pancasila, mengheningkan cipta, amanat pembina upacara, menyanyikan lagu wajib, dst ...... itulah yang rutin di rekam otak saya. Adakah timbul geliat rasa nasionalisme di sini?

Dari semua kegiatan tersebut, menurut saya kuncinya adalah amanat pembina upacara. Jika amanatnya bagus, berapi-api, menyinggung kisah kepahlawanan para pejuang, maka saya yang mendengar akan tersentak rasa nasionalismenya. (pengalaman masa di SD dahul :-)

Tapi bila amanat pembina upacara biasa saja: mengomentari kesalahan petugas upacara saat ini, sedikit petuah untuk rajin belajar, dan itu-itu saja (kayanya kasetnya sama semua, mungkinkah para pembina upacara ini main contek-mencontek isi amanatnya ya?) maka para pendengar akan merasa ini sebagai rutininitas, biasa-biasa saja bahkan ada yang mengantuk.

Coba kita lihat, bagaimana dulunya rakyat Indonesia berdesak-desakan, antri, berjejal-jejal hanya untuk mendengarkan pidatonya Bung Karno. Mereka datang tanpa dipaksa, tanpa diundang. Mengapa? karena daya tarik Bung Karno itu sendiri. Beliau berpidato berapi-api, membakar jiwa nasionalisme, tanpa teks.

Oleh karena itu, mungkin sudah saatnya kita memikirkan kembali apakah format upacara bendera saat ini masih relevan. Apakah susunan acara yang ada masih perlu dibakukan? Sungguh ironi, jika kegiatan rutin yang dilaksanakan serentak di ribuan sekolah di Indonesia ini tidak menghasilkan efek dan manfaat terhadap pesertanya...

Bahkan seorang rekan guru muda yang idealis, menolak ikut upacara bendera karena ia tidak ingin jadi "penyembah bendera". Ia merasa bahwa upacara bendera hanya sekedar sarana penghormatan terhadap bender!
Kamis, 15 November 2007
no image

Kumpulan Perangkat Mengajar Matematika SMP

Bagi andan yang mencari contoh perangkat mengajar matematika untuk SMP bisa mengunjungi halaman ini. Di sini ada RPP, Silabus, Alokasi waktu, Pemetaan hasil belajar, Program tahunan dan lain-lain.


Perangkat Mengajar Matematika SMP

(Mohon maaf file hosting tempat saya upload perangkat ini telah ditutup, jadi mudahan bisa segera upload lagi)

RPP Kelas 7 
RPP Kelas 8 
RPP Kelas 9 
Silabus Kelas 7 
Silabus Kelas 8 
Silabus Kelas 8 smt 2 
Silabus Kelas 9 
Program Semester kelas 7 
Program Semester kelas 8 
Program Semester kelas 9 
Pemetaan Materi kelas 7 smt 1-2 
Pemetaan Materi kelas 8 
Pemetaan Materi kelas 8 smt 1 
RPP Bentuk Aljabar PLSV kelas 7 
RPP Pecahan Bentuk Aljabar kelas 7 
RPP Sudut Garis Segitiga kelas 7 
RPP Garis Singgung Lingkaran kelas 8 
RPP Garis2 Segitiga kelas 8 
RPP Pythagoras kelas 8 
RPP Fungsi Aljabar kelas 8 
RPP Lingkaran kelas 8 
RPP Persamaan Garis Lurus kelas 8 
RPP SPLDV 
Program Tahunan kelas 9 
Alokasi Waktu kelas 9 
SKBM Matematika Kelas 7 dan 8


no image

Panduan Materi UN 2007

SKL UN 2007
Peraturan Menteri No. 45 Tahun 2006 tentang UNAS 06/07
KATA PENGANTAR PROSEDUR OPERASI STANDAR (POS) UN 2006-2007
PROSEDUR OPERASI STANDAR (POS) UN 2006-2007
SKL UNAS 06/07 SMP/MTS
SKL UNAS 06/07 SMPLB
SKL UNAS 06/07 SMA/MA
SKL UNAS 06/07 SMALB
SKL UNAS 06/07 SMK


Panduan UN SMP 2007

Matematika.pdf
Bahasa Inggris.pdf
Bahasa Indonesia.pdf

Panduan UN SMA 2007
Bahasa Indonesia IPA-IPS.pdf
Bhs Ind-BHs.pdf
Bahasa Inggris.pdf
Matematika.pdf
Ekonomi.pdf
Bhs Arab.pdf

Bhs Jepang.pdf
Bhs Jerman.pdf
Bhs Mandarin.pdf
Bhs Perancis.pdf

Panduan UN SMK 2007
Bahasa Indonesia.pdf
Bahasa Inggris.pdf
Matematika Bisnis Manajemen.pdf
Matematika Seni, par & Tek.pdf

Matematika Teknologi.pdf
no image

Sertifikasi Guru

Pedoman Peserta
Panduan Penetapan Peserta (pdf)
Pedoman Sertifikasi Guru 2007 (pdf)
Pedoman LptkDinas 2007 (pdf )
Naskah Perangkat Portofolio (pdf)
Format Portofolio (pdf)

Kuota
Tahun 2006
Tahun 2007
Seluruh Indonesia
Kalimantan Selatan

Penilaian
Rambu-Rambu
KepMen ttg LPTK Penilai
Daftar LPTK Penilai
Rayon dan Wilayah Cakupan
Tim Penilai dari Universitas Lambung Mangkurat

Hasil Penilaian
SD 2006
SMP 2006
Hasil Penilaian Universitas Lambung Mangkurat
no image

Sertifikasi - Sebuah Upaya Mengangkat Kesejahteraan Guru?

Para guru dan dosen sekarang mulai dapat berbahagia. Pemerintah menyelenggarakan program sertifikasi guru dan dosen untuk meningkatkan kesejahteraan mereka. Benarkah demikian? Apa yang terjadi di lapangan?


Terhitung mulai bulan Oktober 2007 ini, para guru yang lulus program sertifikasi akan memperoleh tunjangan profesi yang besarnya 1 kali gaji pokok. Syaratnya guru harus mengajukan portofolio yang isinya rekaman kegiatan mengajar guru selama inSyarat dan berkas yang harus dilampirkan pun cukup mudah. Tampaknya pemerintah serius dan benar-benar bertekad untuk meningkatkan kesejahteraan guru. Tapi apa yang terjadi di lapangan?

Seharusnya semua guru berlomba-lomba untuk mengajukan portofolio agar dapat lulus sertifikasi. Tapi fakta menyebutkan bahwa dari jatah yang diterima setiap kabupaten, ternyata jumlah pendaftar masih kurang, bahkan jumlahnya kurang dari kuota. Apakah para guru ini tidak ingin memperoleh tunjangan profesi. Guru bukanlah golongan masyarakat yang kaya atau kemampuan ekonomi tinggi. Tentu saja mereka sebenarnya ingin juga memperoleh tambahan penghasilan yang dinamakan tunjangan profesi tadi. Tapi mengapa mereka banyak yang tidak mengikuti sertifikasi.

Saya melakukan riset dan wawancara kecil dengan sejumlah guru berkenaan dengan program sertifikasi ini. Dari hasil wawancara tersebut diharapkan terungkap apa kendala sehingga mereka tidak mengikuti sertifikasi.

Pertama saya berbicara dengan seorang guru muda, masih fressh, berdedikasi tinggi sehingga ditempatkan oleh Dinas Pendidikan ke daerah sangat terpencil. Setelah ditanya mengapa tidak ikut sertifikasi? sang guru muda menjawab: saya belum memiliki informasi yang jelas tentang maksud, tujuan, dan syarat-syarat sertifikasi guru. Sebetulnya dia ingin sekali ikut program sertifikasi, tapi karena sebagian waktunya habis tersita untuk mengajar di daerah terpencil maka dia tidak memiliki informasi yang cukup tentang sertifkasi guru tersebut.

Kedua saya berbincang dengan seorang guru muda juga, tapi nasibnya lebih baik dari guru di atas. Dia ditempatkan di perkotaan. Anehnya dia juga tidak ikut sertifikasi. Setelah ditanya, dia tampaknya memiliki cukup informasi tentang sertifikasi guru ini. Tapi kendala yang dia hadapi adalah lama masa tugas dan jumlah point angka kredit yang akan dia peroleh. Menurut informasi yang dia terima, untuk mengikuti sertifikasi guru minimal lama mengajar 10 tahun. Sedangkan ia baru mengajar 4 tahun. Selain itu jumlah minimal point penilaian portofolio katanya harus 800 angka kredit sertifikasi. Setelah di hitung-hitung katanya belum mencapai separuhnya. Akhirnya dia tidak jadi mengikuti program sertifikasi guru. Setengah bercanda dia mengatakan: "Biarlah saya tidak ikut sertifikasi guru tahun ini, kasihan guru yang lebih senior/tua. Biarlah mereka yang maju duluan".

Benarkah syarat program sertifikasi guru demikian.
UU Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen menetapkan kualifikasi, kompetensi, dan sertifikasi sebagai suatu kesatuan upaya pemberdayaan guru. Berdasarkan panduan sertifkasi guru dari dirjen Dikti persyaratan sertifiaksi guru meliputi: (1) masa kerja/pengalaman mengajar, (2) usia, (3) pangkat/golongan (bagi PNS), (4) beban mengajar, (5) jabatan/tugas tambahan, dan (6) prestasi kerja. Oleh karena sistem kouta tentu saja guru yang berada pada peringkat nilai di atas yang akan di prioritaskan. Tidak ada tertera syarat mengajar minimal sudah 10 tahun atau jumlah point harus 800.

Ada lagi guru yang lebih senior (pen: tua) yang setelah diwawancarai ternyata juga tidak mengikuti sertifikasi. Menurut beliau syaratnya sulit untuk di penuhi. Banyak berkas dokumen yang tidak dapat beliau siapkan. Maklum masih banyak guru yang tidak memiliki dokumentasi mengajar yang baik. Sehingga setelah diperlukan, mereka kelabakan mencari berkas mengajar tersebut. Kasihan juga pak guru ini, padahal beliau tinggal beberapa tahun saja lagi sudah pensiun. Ingin merasakan tunjangan profesi tapi tidak dapat memenuhi syarat-syarat dokumen sertifikasi.

Berdasarkan hasil wawancara tersebut, tampaknya sosialisasi maksud, tujuan dan syarat-syarat sertifikasi guru masih belum maksimal. Terbukti masih ada guru yang tidak mengetahui tentang seluk-beluk program pemerintah ini.

Fakta lain yang terungkap adalah, syarat untuk lulus program sertifikasi bagi sebagian guru masih dirasa cukup memberatkan. Akhirnya dengan terpaksa mereka mundur teratur, padahal keinginan untuk mendapatkan tunjangan profesi cukup besar.

Ketiga, terlihat bahwa pemerintah masih membatasi jumlah guru yang diikutsertakan dalam program sertifikasi, entah karena tidak mempunyai anggaran yang cukup. Atau sebab lain hanya mereka yang tahu.

Dengan adanya batasan jumlah guru yang mengikuti sertifikasi ini, tentu akan ada guru yang lulus dan ada guru yang belum mengikuti sertifikasi. Hal ini bisa menimbulkan kesenjangan pendapatan antara guru yang memperoleh tunjangan profesi dan yang belum. Akibatnya akan ada rasa iri, rasa kecemburuan sosial, bahkan masalah dalam pembagian tugas mengajar.
Selasa, 13 November 2007
no image

Dicari! Guru tanpa embel-embel..

Guru adalah sosok mulia. Ia adalah pendidik dan pengajar bagi kita semua. Coba cari, pejabat mana yang tidak pernah dididik oleh guru. Pengusaha mana yang bisa berhitung tanpa pelajaran dari guru. Bahkan petani pun pernah merasakan diajari oleh guru.

Zaman dahulu, guru sangat dihormati. Bahkan sisa-sisa fosil penghormatan terhadap guru masih dilestarikan beberapa sekolah sampai sekarang. Misalnya para siswa diharuskan membungkuk bila lewat di depan guru. Berbicara kepada guru harus dengan tutur kata yang halus. Kata "ulun" dalam bahasa Banjar yang berarti aku dalam arti bahasa halus, harus diucapkan sebagai pengganti aku terhadap guru. Tapi sekarang banyak embel-embel yang ditambahkan di belakang sosok guru.

Di belakang nama "guru" yang begitu dihormati, sekarang diberi tambahan (embel-embel) bermacam - macam. Ada guru "PNS", guru "bantu", guru "bakti", guru "honda", guru "honor", dan lain-lain.

Kenapa hal ini saya katakan sebuah kemalangan. Apa kita tidak menyadari, bahwa sejatinya seorang guru haruslah tetap guru. Tanpa perlu ditambahi embel-embel seperti itu karena apapun jenisnya, tugas seorang guru sama, melepaskan muridnya dari sempitnya pemikiran, mengenalkan bahwa dunia ini sangat luas, memberitahukan bahwa banyak hal yang masih sang murid belum tahu.

Perbedaan embel-embel dibelakang nama guru ini berpengaruh langsung pada banyaknya pendapatan yang ia terima. Guru "PNS" memiliki pendapatan tetap yang lebih besar dari guru non "PNS". Jangan ditanya lagi bagaimana nasib guru yang ditambahi embel-embel "honor', "bantu", "honda", "bakti". Ada yang penghasilannya dalam sebulan hanya bisa menutupi kebutuhan hidup keluarganya untuk seminggu.

Seharusnya, jangan ada perbedaan embel-embel tersebut. Semua guru harus di gaji oleh negara (pen: PNS). Mengapa? karena pendidikan itu tanggung jawab negara. Jadi tugas negaralah menyelenggarakan pendidikan, menggaji guru dan sebagainya.

Tapi ada birokrat (yang sekaligus politisi merangkap pengusaha) berkilah: "negara kita tidak cukup anggaran untuk mengangkat semua guru menjadi PNS". Hebat juga argumen sang tokoh ini (memang orangnya pintar, karena telah dididik oleh guru). Tapi apa dia pernah menghitung, dana BLBI yang diberikan kepada para konglomerat hitam itu bisa dipakai untuk menggaji berapa ribu guru!. Apa dia tidak bisa mengkalkulasi, berapa ton emas dan tembaga dari tambang Freefort (yang jumlah pastinya bahkan pemerintah RI tidak tahu) itu jika dipakai menggaji guru bisa berapa banyak dan berapa tahun. Indonesia negara kaya, bung! tongkat saja ditanam di tanah Indonesia bisa menjadi tanaman, air menjadi kolam susu.

Seharusnya pemerintah kita lebih memberikan perhatian pada dunia pendidikan kalau ingin negara kita maju. Lihat negara Jepang yang luluh lantak setelah di bom atom pihak sekutu. Apa yang pertama kali dikatakan sang Kaisar untuk memulai membangun jepang kembali. Sang kaisar berkata: "Berapa jumlah guru yang masih hidup?". Bukannya berapa uang kita yang masih tersisa. Bukan pula berapa tentara kita yang masih kuat memanggul senjata. Mengapa sang Kaisar pertama-tama mencari para guru? Karena ia sadar, tidak mungkin membangun bangsa melalui pembangunan ekonomi. Tapi membangun bangsa melalui pendidikan. Lihat saja hasilnya sekarang, bagaimana Jepang menjadi negara superpower. Bahkan Amerika Serikat (yang dulunya mengalahkan Jepang dalam perang) sendiri kewalahan bersaing dengan Jepang dalam dunia perdagangan.

Jadi jangan heran melihat negara kita, Indonesia tercinta ini. Kekayaan alam melimpah, tapi tidak bisa mengelola (sehingga banyak yang jatuh ke tangan asing). Penduduknya banyak, tapi takut dengan negara tetangga yang lebih kecil. Industrinya banyak juga, tapi hanya sebatas merakit bahan dari luar negeri. Jarang industri yang muatan lokalnya lebih banyak dari muatan luar negeri.

Begitu pula masalah korupsi merajalela. Dari pejabat yang tinggi, sampai kepala desa bahkan ketua RT terbiasa melakukan korupsi. Bahkan ada istilah, jika tidak ikut korupsi maka akan tersisih lingkungan pekerjaan.

Masalahnya dimana? Ya masalah di atas tadi: kurangnya perhatian terhadap dunia pendidikan di negara kita. Anggaran pendidikan saja kita adalah yang terkecil di antara negera-negara tetangga (yang sebenarnya sama saja miskinnya dengan Indonesia).

Akibatnya, pendidikan tidak dapat menjadi pendorong utama kemajuan bangsa. Bahkan ada sindiran dari negara lain bahwa mutu lulusan Perguruan Tinggi kita ini masih kurang di banding mereka. Buktinya: banyak mahasiswa yang ingin melanjutkan kuliah di luar negeri harus melalui serangkaian pendidikan lagi sebelum masuk kuliah. (Tanya Kenapa?).

Akhirnya, kalau ditanya bagaimana mengatasi berbagai masalah bangsa ini, jawaban dari saya (dari kacamata pendidik) gampang saja: Majukan dunia pendidikan! maka bangsa ini akan maju, akan dihormati di mata dunia, tidak lagi menjadi negara yang terkenal dengan sebuatan "Negara Eksportir Pembantu".
Senin, 12 November 2007
Menjadi Guru: Lain teori di kampus, lain keadaan di lapangan

Menjadi Guru: Lain teori di kampus, lain keadaan di lapangan



Ada gurauan seorang teman yang sepertinya mewakili keadaan saya sebagai seorang guru. "Kalau kita mengajar maka hanya 10% ilmu di kampus yang dapat diterapkan di lapangan, sisanya 90% harus belajar sendiri".

Saya merenung dan merasakan apa benar hal ini terjadi pada diri sendiri. Sejak menjadi guru sekitar 4 tahun yang lalu, ternyata banyak hal yang terpaksa harus belajar sendiri. Ilmu yang saya butuhkan untuk menghadapi tugas di lapangan sebagai guru ternyata tidak mencukupi dari apa yang saya peroleh di bangku kuliah.


Yaah, mungkin saya termasuk orang kategori malas, sehingga sewaktu kuliah kurang belajar atau menimba ilmu dari dosen yang susah dicari di kampus, karena selalu terbang (dosen terbang). Mungkin saya orang yang kurang suka ke perpustakaan kampus yang koleksi bukunya hanya dapat dipinjam 2 hari. Tapi itulah hal yang sudah terjadi, sampai disitulah kemampuan saya kuliah. Walaupun akhirnya setelah menjadi guru, terpaksa harus rajin kembali buka-buka buku, bertapa di perpustakaan bahkan bertanya dan berguru pada guru yang lebih senior karena ilmu yang ada sangat kurang untuk menjadi guru.

Misalnya tentang administrasi dan perencanaan mengajar. Ternyata materi, format, bentuk dan contoh perangkat mengajar yang diperoleh di bangku kuliah tidak sama dengan yang ada di sekolah. Format tersebut tidak disetujui oleh pengawas.

Akibatnya sewaktu diminta oleh dinas pendidikan membuat dan mengumpulkan berkas administrasi mengajar terpaksa membuat berdasarkan format yang dipinjam dari guru senior, bukan memakai format yang ada di bangku kuliah.

Demikian juga dengan strategi mengajar. Sewaktu kuliah ada sih mata kuliah STRATEGI PEMBELAJARAN. Bahkan pakai praktek di kampus dan di sekolah sekitar kampus lagi. Tapi kalau praktek di kampus, yang menjadi siswa adalah kawan mahasiswa yang udah pintar semua. Akibatnya ilmu tentang strategi mengajar masih kurang.

Kalau praktek di lapangan (PPL) ada juga. Tapi waktunya sedikit hanya beberapa kali pertemuan. Akibatnya saya kurang begitu mengerti ilmu strategi belajar yang baik.

Sebenarnya dosen mengharapkan kita dapat belajar sendiri dari perpustakaan. Tapi kalau sekedar membaca sih sudah banyak juga dapat bukunya. Tapi strategi mengajar tidak melulu hanya teori. Perlu praktek, perlu diskusi dengan yang lebih ahli.

Akibatnya, jadilah murid saya di tahun pertama menjadi kelinci percobaan saya dalam strategi mengajar. Apalagi daerah saya bertugas adalah daerah yang berdasarkan SK Bupati merupakan DAERAH SANGAT TERPENCIL. Bayangkan, ada murid saya yang di SMP masih belum lancar membaca. Apa bisa, teori dan pengalaman PPL strategi mengajar di kota diterapkan di sini.

Kalau boleh menilai, materi perkuliahan saya di FKIP Unlam program studi Pendidikan Matematika terlalu banyak materi matematikanya. Sampai dengan materi analitik, diskrit, deret Fourier, dan lain-lain yang saya sendiri tidak ingat lagi. Saking tingginya ilmu matematika tersebut, tapi setelah menjadi guru SMP tidak ada yang bisa di pakai. Karena materi matematika di SMP paling tinggi adalah Logaritma, Persamaan Kuadrat, dan lain-lain.

Yang sangat saya perlukan di lapangan adalah:
1. Bagaimana menghadapi siswa yang nakal?
2. Bagaimana mensiasat pembelajaran yang siswanya masih belum lancar membaca?
3. Bagaimana agar pembelajaran matematika yang abstrak bisa dibuat kontekstual dengan alat, media dan bahan ajar yang terbatas. (maklum di daerah sangat terpencil).
4. Bagaimana memotivasi siswa?
5. Bagaimana membuat siswa memiliki ketertarikan untuk belajar, karena didaaerah saya siswa sering tidak hadir karena lebih memilih ikut orang tua mencari nafkah?
dan lain-lain. Masih banyak lagi...

Jadi tolong kepada rekan seprofesi, yang masih baru belajar mengajar dan menemui banyak permasalahan, berikan komentar tentang masalah yang anda juga alami.

Kepada bapak / ibu dosen, bapak Dekan, bapak Rektor, bapak Menteri Pendidikan, bapak Presiden, dan pihak yang terkait. Tolong agar kurikulum pendidikan guru yang ada lebih banyak lagi muatan pendidikannya, jangan kebanyakan teori dan ilmu tingkat tinggi yang tidak terpakai di lapangan.
Minggu, 11 November 2007
no image

UN SD, Sebuah kebijakan utopis?

Niat pemerintah untuk menyelenggarakan UN bagi tingkat sekolah dasar (UN SD) sepertinya sudah tidak bisa di tawar-tawar lagi! Menurut mereka, hal ini perlu dilakukan demi standarisasi dan peningkatan mutu pendidikan.
Ada pertanyaan mendasar yang harus dipikirkan berkenaan dengan akan diselenggarakannya UN SD tahun depan ini. Yaitu: Apakah perlu diberlakukan UN SD untuk saat ini?


Jawabannya menurut kacamata saya sebagai guru daerah terpencil adalah belum saatnya! Lho pak! apakah bapak mau menentang kebijakan pemerintah? Apakah bapak tidak ingin adanya standarisasi dalam hal kelulusan SD? Atau bapak tidak ingin mutu pendidikan kita meningkat? Mungkin itulah pertanyaan yang timbul akibat sikap dan jawaban saya di atas.

Pertanyaan pertama saya jawab: saya tidak ingin/tidak berani menentang kebijakan pemerintah. Bukankah kebijakan UN SD ini telah ditentang oleh banyak pihak, ada yang berdemo, ada yang terus terang menyatakan tidak setuju, bahkan ada dinas pendidikan atau sekolah yang seia-sekata menyatakan tidak siap. Kenyataannya, anjing menggonggong kafilah berlalu! Kebijakan ini tetap juga dilaksanakan (pen:dipaksakan).

Pertanyaan kedua saya jawab: saya orang pertama yang berdiri dibarisan depan mendukung kebijakan yang akan meningkatkan mutu pendidikan. (Yes, itu baru Oemar Bakrie sejati, men, he.he.he). Tapi apa benar UN SD akan meningkatkan mutu pendidikan? Kalau meningkatkan angka/nilai kelulusan mungkin saja. Tapi ingat, nilai atau angka kelulusan itu merupakan hasil bukan proses. Meningkatnya hasil belum menjamin bahwa proses yang ada telah meningkat mutunya. Kalau tidak percaya anda boleh menjadi tim Pemantau Independen UN SD, pergilah ke daerah pinggiran. Ikutlah jadi pengawas di SD sana. Insyaallah anda akan dipanggil kepala sekolah, masuk keruangan beliau, kemudian dengan amat sangat beliau meminta agar pengawasan jangan terlalu ketat, "Kalau ada pelanggaran sedikit-sedikit tolong jangan dilaporkan kata beliau.

Kenapa bisa demikian, karena pada hakekatnya sekolah belum siap menghadapi UN. Proses pendidikan yang ada tidak mengalami perubahan atau tidak ada kebijakan yang signifikan dari pemerintah. Logikanya: kalau hasil ingin meningkat, maka proses harus ditingkatkan lebih dahulu. Misalnya, kalau pedagang ingin untung lebih besar, maka dia harus menambah modal dagangannya.

Kita lihat, apa ada kebijakan pemerintah yang signifikan dalam peningkatan mutu pendidikan. Oh, ada pak! sekarang kurikulum diganti dengan yang baru! jawab seorang rekan birokrat. Oh ada lagi pak! gedung sekolah sekarang telah diperbaiki. Jawab rekan pemborong. Oh ada pak, buku telah diganti dengan yang baru, jawab rekan agen salah satu penerbit dari pulau jawa.

Terserah pendapat anda, tapi dari pengalaman saya sebagai guru, kebijakan yang selama ini diambil pemerintah cuma menyentuh kulit permasalahan pendidikan kita. Belum sampai ke akar permasalahan sebenarnya. Hasilnya ya, masih nggak jauh beda dengan pendidikan beberapa repelita dahulu! (Tanya kenapa?)

Akibatnya, UN SD menjadi tekanan bagi sekolah dan guru. Pemerintah membuat patokan nilai untuk lulus, tidak peduli apakah murid tersebut dari kota atau dari desa, dari daerah maju atau terpencil. Pokoknya kalau ingin lulus harus punya nilai sekian...

Maka sekolah membuat rencana dan strategi menghadapi UN. Bagi sekolah yang memang bermutu, mereka akan dapat mengantisipasi UN dan terbukti hasilnya (pen:nilai siswa) meningkat. Bagi sekolah yang sebenarnya belum mampu, maka mereka akan membentuk TIM SUKSES yang dengan segala cara berusaha meningkatkan hasil UN. Dari cara biasa, resmi, legal, illegal bahkan mungkin tindakan yang sebenarnya bertentangan dengna misi pendidik pun dilakukan. Contohnya, ada guru yang memberikan jawaban soal kepada siswa. Apa yang bisa diharapkan dari seorang siswa yang telah diajari untuk berlaku tidak jujur oleh gurunya sendiri.....!

Akhirnya kita tunggu saja hasil dari UN SD tahun depan apakah memang betul-betul dapat dan siap dilaksanakan oleh sekolah?

Majulah Pendidikan Indonesia!
(Lewat cara yang jujur tentu saja ...)
Sabtu, 10 November 2007
no image

Guru: Pahlawan Tanpa Tanda Jasa, Sebuah gelar yang merendahkan!

Guru memiliki sebutan (pen:embel-embel): PAHLAWAN TANPA TANDA JASA. Sebuah sebutan yang menurut saya merendahkan martabat guru, kalau boleh disebut tidak menghargai jasa guru.


Saya pernah mengajak teman guru yang ahli bahasa Indonesia untuk berdiskusi mengenai masalah ini.Menurut beliau:
Pahlawan = orang yang berjasa besar kepada bangsa dengan pengorbanan yang besar pula, bahkan rela berkorban nyawa.
Guru = orang yang pekerjaanya mendidik baik itu di rumah, di masyarakat maupun di sekolah.
Khusus untuk diskusi kali ini, yang dimaksud guru adalah pengajar di sekolah, baik sekolah negeri atau swasta.

Tanda jasa = sebuah tanda penghormatan atau penghargaan atas jasa seseorang yang dianggap sangat berarti.

Bila kita amati, maka guru di asosiasikan sebagai Pahlawan, tetapi yang sangat menyakitkan, divonis/disepakati/diumumkan bahwa ia tanpa tanda jasa....!

Bagi pihak penerima, dalam hal ini guru, "tanpa tanda jasa" bisa diartikan bahwa guru tidak mengharapkan atau meminta penghargaan dalam melaksanakan tugasnya. Ia ikhlas dan menerima mengajar dengan gaji yang tidak mencukupi kebutuhan hidup dalam sebulan.

Pemberi tanda jasa (masyarakat/pemerintah) akan mengartikan embel-embel ini bahwa sudah takdirnya: GURU TIDAK PERLU DIBERI TANDA JASA...!!! Akibatnya pemerintah dan masyarakat tidak merasa berkewajiban memberikan tanda jasa. Sungguh ...

Hasilnya? kita lihat saja kehidupan guru sekarang ini. Ada yang sampai pensiun tidak bisa membeli rumah. Hampir semua guru membeli sepeda motor untuk pergi ke sekolah dengan kredit. Gaji yang diterima sering kali tidak mencukupi kebutuhan hidup keluarga dalam sebulan. Akhirnya sang Guru harus mencari akal dan memutar otak untuk menambah penghasilan selain gaji.

Akibatnya, ada guru yang berprofesi ganda, pagi sebagai guru, sore sebagai tukang ojek, petani, berdagang, bahkan ada kepala sekolah yang bekerja sambilan sebagai tukang becak.

Kenapa? karena nasibnya kurang diperhatikan. Kesejahteraan hidupnya masih dalam mimpi. Fasilitas mengajar disekolahnya masih seperti zaman kolonial, kapur dan papan tulis. Buku-bukunya masih buku-buku zaman behaula.

Kalau boleh membandingkan ke masa penjajahan Belanda, gaji seorang guru saat itu satu bulannya bisa untuk membeli Sepeda Golden. Kalau ditaksir harganya sekarang setara harga sebuah sepeda motor bebek. Bahkan ada orang yang sinis, bahwa pemerintah sekarang perhatiannya terhadap dunia pendidikan ternyata lebih baik pemerintah kolonial Belanda.

Kalau mau perbandingan zaman sekarang, menurut teman yang pernah ke Malaysia, katanya gaji guru di sana 1 bulan cukup untuk di makan 3 bulan. Fasilitas pendidikan sudah canggih dan lengkap.

Lalu ada yang berkomentar sinis, Haiii bapak dan ibu Guru, jangan banyak menuntut, jangan banyak menyalahkan, kemampuan pemerintah dalam membiayai pendidikan cuma sampai di sini........

Engkau salah, wahai tukang kritik. Ketahuilah, guru tidak sukan menuntut (makanya jarang guru ada demonstrasi), guru tidak suka menyalahkan (kecuali dalam ulangan di kelas).. Seharusnya kalian semua yang sadar:
Darimana engkau mampu membaca...? kalau tidak diajarkan guru
Darimana engaku bisa menulis blog ini...? kalau tidak diajarkan guru
Darimana para pejabat itu memperoleh kepintaran...? kalau bukan dari guru


Sekaranglah saatnya! wahai semua yang merasa pernah diajari oleh seorang guru: hargai mereka, perhatikan mereka, karena ilmu tidak akan bermanfaat jika seorang murid tidak menghargai guru.

Langkah pertama: HILANGKAN gelar/embel-embel merendahkan: GURU PAHLAWAN TANPA TANDA JASA. GANTILAH dengan gelar GURU PAHLAWAN BANGSA!
Langkah kedua : terserah anda.
Copyright © 2013 INFO GTK 2 All Right Reserved