Breaking News
Loading...

Recent Post

Kamis, 30 April 2009
no image

Jangan Biarkan Kami Berjuang Sendiri

Pendidikan di daerah terpencil merupakan medan perjuangan bagi guru. Berbagai masalah ada di kawasan yang jauh dari kota ini. Masalah geografis, demografis, kemiskinan, keterbatasan sarana dan prasarana hingga ketidakpedulian kalangan akademis terhadap pendidikan didaerah terpencil.

Dilihat dari sudut pandang geografis, daerah terpencil diartikan sebagai daerah yang sulit dijangkau karena umumnya merupakan kawasan pegunungan atau rawa. Pembangunan infrastruktur sangat lambat disana. Jalan, listrik, pasar, sekolah dan lain-lain sangat ketinggalan. Contohnya di Bajayau, sebuah daerah terpencil di kabupaten Hulu Sungai Selatan provinsi Kalsel. Fasilitas jalan baru mulai dapat "dinikmati" 1 tahun ini. Padahal Indonesia sudah merdeka lebih dari setengah abad lamanya. Demikian pula terbatasnya sarana dan prasarana yang ada disana. Gedung sekolah yang bocor, buku yang tidak memadai, guru yang kurang, dan sebagainya sudah lumrah menghiasi sekolah-sekolah di daerah terpencil.

Masalah demografis umunya adalah masalah sedikitnya jumlah penduduk. Mungkin ini yang menyebabkan daerah terpencil kurang diminati dari segi politik pembangunan. Lihat saja mana ada caleg atau parpol yang menjalankan kampanyenya ke daerah terpencil. Kalau dihitung secara ekonomis mungkin tidak menguntungkan. Semoga tidak demikian pandangan pemerintah. Semoga tidak karena jumlah penduduk tidak sebanyak di kota maka pembangunan di daerah terpencil jadi nomor uncit (uncit=akhir).

Tapi penekanan tulisan ini bukan pada masalah-masalah di atas. Tapi ada masalah yang lebih mengkhawatirkan adalah ketidakpedulian intelektual pada kemajuan di daerah terpencil. Menurut pengamatan saya, PNS atau guru baru enggan ditempatkan didaerah terpencil. Sebelum proses penempatan maka para intelektual muda tersebut bergerilya melobi pembuat keputusan.Tujuannya sih agar ditempatkan tidak jauh dari kota.

Walaupun akhirnya ada yang terlanjur ditempatkan didaerah terpencil, maka yang ada diotaknya tidak lain adalah bagaimana agar cepat pindah. Jadi kinerja tidak maksimal. Sedikit-sedikit ada kesempatan langsung mengusulkan pindah.

Herannya lagi ada guru baru bekerja setahun udah pindah. Padahal waktu awal jadi PNS mereka menandatangani surat pernyataan bersedia ditempatkan seluruh wilayah Indonesia. Masalah ini diperparah dengan tidak adanya perencanaan dan aturan main yang jelas dalam pendistribusian guru. Dinas pendidikan kabupaten selaku penentu penempatan dan pemindahan guru sering "kada balampu" (kada balampu=tidak pakai lampu). Maksudnya penempatan atau proses pindah tidak sesuai kebutuhan. Jadi jangan heran kalau ada sekolah di kota yang guru Bahasa Indonesianya sampai tujuh orang. Sementara ada sekolah didaerah terpencil yang guru PNS nya cuma 2 orang saja.

Sebagai intelektual muda yang idealis, harusnya para CPNS bersedia dan bersemangat ditempatkan didaerah terpencil. Sejatinya daerah terpencil merupakan kawah candradimuka bagi penempaan intelektual. Kalau sewaktu kuliah kita hanya dapat teori, maka waktu didaerah terpencil kita dapat mempraktikkan ilmu. Kelebihan lain bekerja didaerah terpencil adalah pembentukan sifat pengabdian yang tulus. Semua tidak melulu harus menguntungkan. Semua tidak melulu harus demi uang. Jujur saja, mengajar didaerah terpencil tidak menguntungkan dari segi mater. Mengajar didaerah terpencil jauh dari gelimang harta. Bahkan terkadang kita mengeluarkan duit sendiri untuk membantu pendidikan disana. Tapi yang hikmah mengajar didaerah terpencil adalah kita memperoleh kekayaan hati. Kita terbiasa menjadi lilin yang rela menerangi orang lain. Kita terbiasa banyak memberi, bukanya banyak mengambil.

Nah, jangan biarkan kami berjuang sendiri..kami tunggu kiprah para intelektual muda semua untuk memajukan pembangunan di daerah terpencil.
Jumat, 24 April 2009
no image

Antara Blog, Facebook dan Ubuntu

Sudah hampir 2 bulan ini saya tidak menulis. Serasa ada sesuatu yang hilang, ada hasrat yang tidak tersalurkan. Hasrat menulis amatiranku. hehehe. Ok sekarang lagi santai di Warnet Raja yang full Linux di Kandangan.

Sebagian blogfriend bertanya-tanya kemana gerangan. Jawabannya adalah aku tersesat diantara blog, facebook dan Ubuntu. Ngeblog merupakan hobi pertama saya di internet. Menulis dan menulis. Tapi menulis di blog saya rasa nggak bisa sembarangan dan mesti dikonsep dan dipikirkan dengan matang materinya. Yah, katakanlah agak lebih serius dibanding menulis di facebook.

Jujur, saat ini saya lebih rajing update status di facebook ketimbang menulis di blog. Kelebihan facebook ada dua (menurut saya).Pertama tulisannya nggak perlu berat dan serius, cukup satu dua kalimat yang mewartakan kegiatan saat itu. Kedua, facebook dapat menampilkan tulisan terbaru teman-teman yang terhubung dalam satu halaman. Jadi kita nggak perlu menjelajah kemana-mana seperti blogwalking.

Selain itu berbagai kesibukan yang sangat menyita waktu. Tapi untuk alasan ini kurang bisa dipertanggungjawabkan. Sibuk bukan alasan untuk tidak menulis di blog. Buktinya Pak EWA, yang kesibukannya fullday dengan beribu-ribu aktifitasnya masih sempat-sempatnya menulis. Salut untuk Pak EWA.

Selain facebook, ada lagi aktivitas yang sangat saya gemari, yakni mengoprek Linux. Distro Linux yang saat ini sedang saya pelajari adalah Ubuntu. Operating System yang free dan terbuka ini membuat saya bisa belajar lebih banyak tentang sistem operasi dan jaringan. Berbagi varian ubuntu telah saya jajal, mulai dari Ubuntu Desktop, Ubuntu Muslim Edition (ME), Edubuntu, Kubuntu, Linux Mint. Sungguh menarik bisa menginstall sistem operasi yang free dan bisa dikostumis sesuai selera dan kebutuhan.

Hebatnya lagi, kita bisa mengkompile kernel Linux sendiri agar sesuai dengan kebutuhan dan hardware yang kita miliki. Fantastis, semua itu gratis, dan hebaatnya lagi CD installer saya request dari markas Ubuntu di luar negeri, eehh ternyata dikirimkan gratis sampai dirumah saya.

Saat ini lagi gandrung dengan Ubuntu Server 8.10. Walaupun tampilannya berbasis teks bukannya GUI, tapi software yang terkandung didalamnya benar-benar komplit, tahan banting dan dapat memenuhi kebutuhan server disekolah, warnet atau lembaga pemerintahan.

Saya sedang belajar menginstall gateway di Ubuntu agar bisa mensharing satu koneksi Speedy di sekolah kami untuk dikoneksikan ke puluhan komputer di lam. Selain itu file server, printer sharing, DNS, database server, web server, mail server, proxy server telah sukses saya jalankan di server. wuihh serasa memakai server branded yang harganya puluhan juta.

Kedepannya, saya bercita-cita meracik ubuntu server untuk warnet. Inginya sih, memfungsikan Ubuntu server sebagai router, bandwith shaper, billing dan load balancer. Router untuk membagi koneksi, bandwidth shaper untuk membatasi koneksi perclient, billing untuk sistem keuangannya dan load balancing untuk menggabungkan 2 atau lebih koneksi Speedy dalam satu warnet.

Sudahkan anda memakai Linux?
Copyright © 2013 INFO GTK 2 All Right Reserved