Breaking News
Loading...
Senin, 06 April 2015

Kisah Si Guru Honorer


Saya seorang guru. Menyebutnya saja bisa membuat bangga apalagi benar-benar melakoninya. Saya benar seorang guru, guru honor, guru yang dianggap sebagai pelengkap saja di sebuah sekolah. Bagaimana tidak, saya hanya mengajar jika tersedia jam kosong atau lebih dari guru pegawai negeri. Tidak hanya saya, guru honor lainnya juga mendapatkan perlakuan yang sama. Di saat isu sertifikasi semakin santer mengarak guru pegawai negeri untuk memenuhi 24 jam pelajaran dalam seminggu, tergerus pula jam pelajaran bagi kami guru honor. Guru-guru tersertifikasi wajib mengajar supaya dianugerahi gaji dua kali lipat di awal bulannya, atau di rapel percatur wulan. Sebagian guru honor lain, teman saya sendiri, malah datang ke sekolah sekadar menampakkan diri supaya terdata sebagai honorer walaupun tidak ada jam mengajar. Harapan diangkat menjadi pegawai negeri semakin menjadi asa yang tak terbendung, belum lagi informasi yang beredar bahwa honorer tidak akan diangkat lagi jadi pegawai negeri. Secara sadar atau tidak, mungkin hanya untuk menyenangkan hati lara, kami berkata pada diri sendiri akan sebuah kesabaran pasti ada hasil.

“Nanti, saat pemimpin kita diganti, kebijakan juga akan berganti!”

Saya berada di lingkungan yang sama dengan guru tersertifikasi. Keberuntungan masih memihak kepada saya walaupun hanya sedikit saja. Saya masih mendapat jatah jam mengajar pelajaran Teknologi Informasi (TIK). Padahal ijazah saya jelas-jelas tertera Sarjana Pendidikan Fisika. Saya mengajar TIK karena tidak ada guru yang bersertifikat TIK dan guru-guru lain di sekolah ini belum mahir mengoperasikan komputer.

Saya mengajar di dua sekolah, MTsN dan MAN, di Kabupaten Aceh Barat. Dan hanya dua sekolah ini pula yang sudah menerapkan bayaran perjam bagi guru honor. Saya masih berada di ujung keberuntungan, selain dibayar perjam, gabungan jam mengajar saya dari dua sekolah itu melewati batas 30 jam perminggu. Saya tidak bisa menyebutkan besar nominal yang diberikan dua sekolah tersebut, paling tidak cukup untuk saya beli bensin tiap hari ke sekolah. Jam mengajar saya lebih banyak dari guru bersertifikat sebagai guru profesional, bukan?

guru honor

Saya membiarkan waktu berjalan sebagaimana mestinya. Di saat guru pegawai negeri bersertifikasi lupa mengajar karena harus mengurus kelengkapan pembelajaran (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran, Silabus, Program Semester, Program Tahunan, Minggu Efektif, Kriteria Ketuntasan Minimum), juga berkas-berkas kenaikan pangkat. Saya diwajibkan berkonsentrasi pada pelaksanaan pembelajaran itu sendiri. Saya masuk kelas lebih awal bersama guru honor lain. Mengajar sesuai jam yang telah diberi tanggung jawab kepada kami. Lalu pulang di jam yang sama dengan guru pegawai negeri.

Mengajar 30 jam di dua sekolah, saya menyiasatinya dengan sangat jeli. Berbagi hari antara dua sekolah terkadang tidak cukup memenuhi jumlah jam. Ada kalanya dalam satu atau dua hari saya harus memangkas pertemuan mengajar. Bila pagi sampai dengan jam istirahat di MAN, seusai istirahat saya akan ke MTsN. Untungnya lagi, jarak yang saya tempuh lumayan dekat dan waktu istirahat pun sama-sama mengambil pukul 10.30 WIB.

Karena masih dianggap anak bawang, sebutan kepada guru honor, saya mengerahkan segenap kekuatan untuk berbagai bidang ilmu di luar ijazah yang saya emban. Mengajar di MAN lebih leluasa saya lakukan karena sudah tersedia Laboratorium Komputer, sedangkan di MTsN saya lebih mengandalkan pengetahuan dan buku-buku sebagai penunjang. Menghadapi lebih kurang 300 siswa dalam seminggu membuat batin saya lelah sekali. Antara siswa MAN yang beranjak dewasa tentu saja berbeda dengan siswa MTsN yang masih berangkat dari anak-anak menuju masa remaja. Belum lagi mengajarkan ilmu praktik tanpa disertai sarana pendukung membuat saya kelimpungan. Terlebih, saat siswa-siswi sudah mengenal internet, berinteraksi di facebook maupun twitter, saya dituntut kerja ekstra menjawab pertanyaan dari mereka. Saya menjelma menjadi seorang guru ahli komputer, mereka bertanya semua hal, termasuk guru-guru di dua sekolah yang menggantungkan harapan bisa mengetik soal-soal ujian dengan benar di keyboard kepada saya.



Saat saya tidak bisa mengandalkan komputer karena mati lampu atau alasan lain, saya memastikan siswa-siswi bisa belajar dengan metode lain. Mengenalkan kepada mereka istilah-istilah dasar dalam pengoperasian komputer atau mengadakan diskusi kelompok. Di MTsN yang belum memiliki laboratorium komputer, saya mengajak siswa-siswi bermain game karena mereka lebih suka bermain di luar kelas.



Konsentrasi saya sering terpecah antara tuntutan 30 jam pelajaran. Saya butuh, seperti yang sudah saya sebutkan di awal, hanya dua sekolah ini yang memberikan kemakmuran bagi kami guru honor walaupun sering kali terlambat satu bulan bahkan sampai satu semester. Saya meninggalkan satu sekolah saja, calon guru honor yang lain akan mengantri datang melamar. Seakan, kami tidak mengindahkan teguran pemerintah yang mengatakan tidak ada lagi kemungkinan guru honor diangkat jadi pegawai negeri. Tapi kami tetap mengajar, karena itulah aktivitas kami di daerah sempit lapangan pekerjaan. Paling tidak, sudah rapi setiap pagi membawa kebanggaan tersendiri karena kami seorang sarjana.



Sebagai guru honor, selain diabaikan oleh sekolah kami pun dianak-tirikan oleh pemerintah. Saya termasuk salah satu guru honor dari sekian ribu guru honor yang sudah mengabdi puluhan tahun. Satu dua di antara kami menerima tunjangan fungsional sebesar Rp. 250 ribu sebulan dan dibayar persemester. Dan jika dalam satu sekolah tidak semua guru honor mendapatkannya, kami berhak membagi sama rata. Saya mendapatkan sedekah dari pemerintah itu dari MTsN, dan kami membagikannya kepada guru honor lain yang datanya belum tersimpan di Kementerian Agama Kabupaten Aceh Barat. Besaran angka tersebut sangatlah minim untuk motivasi seorang guru yang mengajar saban waktu mencerdaskan anak bangsa. Saya bisa memahami pengeluaran pemerintah dalam hal ini, tetapi mereka, guru honor yang lebih tua, lebih lama mengabdi, nominal itu sungguh sangat berarti.

Terakhir, selain isu sertifikasi, datanglah Kurikulum 2013 yang memangkas beberapa mata pelajaran termasuk TIK. Sebagai guru yang hanya mengajar TIK saja maka saya akan kehilangan jam pelajaran tersebut di masa mendatang. Di saat-saat seperti ini, saya mengharapkan suatu keajaiban datang dari mana saja. Satu sisi, kurikulum baru tersebut bagus untuk dilaksanakan di daerah urban. Di sisi lain, kurikulum tersebut menciptakan kebingungan kepada guru mata pelajaran dan menghilangkan banyak harapan guru-guru honor di seluruh negeri ini. Tapi pemerintah tahu yang terbaik untuk dunia pendidikan Indonesia yang semakin tertinggal. Mungkin kami yang semestinya berbenah, mengepakkan sayap mencari harapan di dunia baru lainnya.

Saya, di antara ribuan guru honor lain. Beginilah nasib kami. Curahan hati saya barangkali lebih bahagia dibandingkan guru honor lain. Saya masih mendapatkan imbalan dari dua sekolah dengan dihitung perjam masuk. Guru honor lain, akan dibayar persemester sealakadarnya saja. Seandainya mereka bisa menulis, bisa mengakses internet, kegetiran mereka akan lebih menyayat hati!

Ubaidillah S. PdI

0 komentar:

Posting Komentar

Copyright © 2013 INFO GTK 2 All Right Reserved